Monday, July 31, 2006

Pria Desa Berpendidikan Rendah, Perokok Terbanyak

Sarjani Jamal (Peneliti di Badan Pengembangan Kesehatan Jakarta)
Selasa, 14 Mar 2006 13:31:38


Pdpersi, - Ada Apa Dengan Rokok?
Seseorang dikatakan perokok jika selama ini telah menghisap minimal 100 batang rokok. Rokok merupakan dilemma karena di satu sisi menimbulkan kerugian pada kesehatan sedangkan di sisi lain menjadi pemasok cukai yang cukup besar bagi negara.

Secara global, konsumsi rokok membunuh satu orang setiap 10 detik. WHO memperkirakan pada 2020 penyakit berkaitan dengan rokok akan menjadi masalah kesehatan utama di banyak negara. kebiasaan merokok dianggap menjadi entry point pada penyalahgunaan narkotik dan bahan berbahaya lainnya (narkoba).

Fenomena lain yang juga harus diperhatikan adalah para perokok pasif, yaitu orang yang tidak merokok tapi tercemar oleh asap rokok. Pencemaran tersebut dapat terjadi dalam rumah, ruangan kantor, kendaraan, dan tempat umum lainnya. Survei membuktikan !ebih dan 90% perokok aktif mengaku merokok dalam rumah ketika bersama anggota keluarga, sehingga sekitar 70% penduduk Indonesia berumur 0-14 tahun telah terpapar asap rokok sejak lahir (perokok pasif). Informasi mi menunjukkan betapa besarnya prevalensi perokok pasif dengan akibat yang lebih parah lagi.

Asap rokok terdiri dan 4.000 bahan kimia dan 200 di antaranya bersifat racun. Antara lain karbon monoksida (GO) dan polycyclic aromatic hydrocarbon yang mengandung zat-zat pemicu terjadinya kanker (seperti tar, benzopyrenes, vinyl chlorida, dan nitroso-nor-nicotine). Di samping itu, nikotin dapat menimbulkan ketagihan, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif. Para perokok aktif dan pasif berisiko terkena batuk dengan sesak nafas 6,5 kali dibanding bukan perokok. Industni rokok selalu berusaha menyangkal bukti-bukti epidemiologis tentang dampak merokok mi pada kesehatan manusia.

Nikotin merupakan alkaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi beracun. Zat mi hanya ada dalam tembakau, sangat adiktif, dan mempengaruhi otak/susunan saraf. Dalam jangka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dan ketagihannya. Sifat nikotin yang adiktif ini dibuktikan dengan adanya jurang antara jumlah perokok yang ingin berhenti menokok dan jumlah yang berhasil berhenti. Survei pada anak-anak sekolah usia 13— 15 tahun di Jakarta menunjukkan bahwa lebih dan 20% adalah perokok tetap dan 80% di antaranya ingin berhenti merokok tetapi tidak berhasil.

Di pihak lain, pajak pengusaha rokok dan cukai tembakau menyumbang pemasukan negara cukup besar. Pengusaha rokok merupakan salah satu di antara pembayar pajak terbesar di Indonesia pada 2002. Gukai temhakau merupakan 90% lebih dan total penerimaan cukai pada 2000. Industri pengolahan tembakau telah menyerap lebih dan 250 ribu karyawan dan merupakan 5,6% dan seluruh tenaga kerja jenis pengolahan pada tahun 2000. Berdasarkan fenomena di atas, mungkinkah pabrik rokok ditutup?

Orang Desa Paling Banyak Jadi Perokok
Sekitar 60% penduduk Indonesia berada di pedesaan dan sisanya di perkotaan. Survei sosial dan ekonomi nasional (Susenas) 1995 dan 2001 menunjukkan bahwa persentase penduduk yang merokok di pedesaan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Propinsi dengan persentase penduduk pedesaan yang merokok paling tinggi berturut-turut adalah Lampung (32%), Jawa Barat (31%), Kalimantan Barat (31%), dan Bengkulu (30%).

Propinsi dengan persentase penduduk perkotaan yang merokok paling tinggi adalah Jawa Barat, NTB, dan Lampung. Lampung dan Jawa Barat juga menjadi propinsi dengan persentase penduduk yang merokok paling tinggi secara nasional, sedangkan paling nendah adalah Bali. Dalam kaitan dengan penyuluhan antinokok, kedua propinsi itu perlu mendapat perhatian.

Pria Berpendidikan Rendah Lebih Banyak Jadi Perokok
Tingkat pendidikan penduduk Indonesia sangat beragam. Ada yang tidak sekolah/tidak tamat Sekolah Dasar (SD), ada yang tamat SD, tamat SLTP, tamat SLTA, dan ada pula yang berijazah Akademi/Universitas. Perilaku merokok akan herkaitan dengan pengetahuan dan sikap seseorang terhadap rokok, dan pendidikan menjadi latar belakangnya.

Survei secara nasional tersebut juga menunjukkan bahwa pria yang tidak sekolah/tidak tamat SD merupakan perokok terbanyak. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin sedikit yang jadi perokok. Sedangkan wanita hanya sedikit yang jadi perokok.

Pria Muda Lebih Banyak Menjadi Perokok
Survei yang sama juga menemukan bahwa laki-laki remaja lebih banyak menjadi perokok dan hampir dua pertiga dan kelompok umur produktif adalah perokok. Selama 5 tahun, telah terjadi peningkatan kebiasaan merokok pada semua kelompok umur pria, sedangkan pada wanita terjadi penurunan.

Pada pria, prevalensi perokok tertinggi adalah kelompok umur 25 —29 tahun. Hal ini terjadi karena jumlah perokok pemula jauh lebih banyak dari perokok yang berhasil berhenti merokok dalam satu rentang populasi penduduk. Sebagian besar perokok mulai merokok pada umur kurang dari 20 tahun dan separuh dari laki-laki umur 40 tahun ke atas telah merokok selama 30 tahun atau lebih. Lebih dan separuh penokok mengkonsumsi minimal 10 batang rokok per hari.

Hasil penelitian menunjukkan hampir 70% penokok Indonesia mulai merokok sebelum mereka berumur 19 tahun. Banyaknya perokok pemula di kalangan anak-anak dan remaja mungkin karena mereka belum mampu menimbang bahaya merokok bagi kesehatan dan dampak adiktif yang ditimbulkan nikotin. Perokok mungkin beranggapan bahwa mereka sendirilah yang menanggung semua bahaya dan risiko akibat kebiasaannya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka juga memberikan beban fisik dan ekonomi pada onang lain di sekitarnya sebagai perokok pasif.

Mesin Merokok
Di Indonesia, untuk mengetahui kadar nikotin dan tar serta karbon monoksid (CO) yang terdapat dalam rokok, digunakan mesin merokok (smoking machine) yang telah mendapatkan sertifikat ISO seperti yang ada di Badan POM. Cara ini juga digunakan di Amerika Serikat. Walaupun demikian, beberapa produsen rokok yang merasa dirugikan menggugat metode tersebut sebagai cara yang tidak sesuai dengan kenyataan penggunaan rokok sehari-hari. Adakah cara lain yang lebih sahih? Barangkali melalui penggunaan manusia sebagai volunteer mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut. Masalahnya adalah siapa yang bersedia dan bagaimana imbalannya?

Pembuatan rokok rendah nikotin dengan label Mild atau Light atau Ultra light tidak menyelesaikan masalah penurunan intake nikotin, tar, dan CO pada perokok. Rokok jenis ini menyebabkan para pencandu memerlukan lebih banyak batang rokok untuk mencapai tingkat nikotin yang dapat memuaskan rasa ketagihan mereka.

Rokok kretek mengandung 60-70% tembakau, sisanya 30—40% cengkeh dan ramuan lain. Cengkeh mengandung eugenol yang dianggap berpotensi menjadi penyebab kanker pada manusia dan terkait dengan zat kimia safrol yang menjadi salah satu penyebab kanker hati ringan. Penelitian pada 2003 yang disponsori oleh pabrik kretek Sampurna menemukan bahwa dari 23 rokok jenis kretek yang diteliti, 14 jenis di antaranya mengandung kadar nikotin di atas 2 mg /batang, 18 jenis mengandung tar di atas 40 mg/batang, dan 12 jenis mengandung eugenol di atas 8 mg/batang. Ini menunjukkan bahwa pada umumnya rokok kretek mengandung cukup tinggi ketiga zat yang membahayakan kesehatan tersebut.

Di samping itu, dalam rokok kretek terkandung berbagai zat tambahan yang berbeda sebagai bumbu yang dapat membuat rasa khas pada setiap jenis rokok. Beberapa di antaranya adalah bahan menyan, kelembab, dan ammonia yang dapat meningkatkan penyerapan alkaloid nikotin dalam bentuk base-nya. Juga terdapat aldehid, menthol, dan cocoa untuk memperbaiki rasa. Mungkin sebagian zat tersebut aman bila dimakan, tapi bila dihisap efeknya pada paru-paru bisa sangat merugikan perokok itu sendiri maupun perokok pasif.

Sponsor Olah Raga oleh Perusahaan Rokok
Iklan dinilai meningkatkan konsumsi tembakau, dengan menciptakan situasi pemakaian tembakau dianggap baik dan biasa. Pemberian sponsor serta promosi melalui berbagai kegiatan tampaknya menjadi kunci dalam strategi industri tembakau untuk merangkul para remaja. Semua perusahaan besar rokok di Indonesia menjadi sponsor pada berbagai kegiatan olah raga, acara remaja, film, dan konser musik. Hal ini berakibat terbentuknya image pada anak-anak yang mengasosiasikan merokok dengan keberhasilan/prestasi dan kebahagian. Para penyuluh kesehatan harus bekerja keras untuk melawannya.

Deklarasi Geongju (Korea) yang dikuatkan oleh 410 orang partisipan dan 39 negara peserta APACT September 2004 menghimbau agar pemerintah, pengusaha, dan individu di Asia mengakhiri semua bentuk iklan, sponsorship, promosi, dan kegiatan pemasaran rokok, termasuk sebagai sponsor pada ASEAN ART award dan Racing Formula I.

Kenapa Pria Sulit Berhenti Merokok?
Pada setiap bungkus dan iklan rokok telah dicantumkan peringatan kesehatan tentang bahaya merokok. Setiap perokok tentu tahu tentang hal itu. Walaupun demikian, tampaknya peringatan hanya berpengaruh pada perokok wanita, sedangkan pada pria tidak. Ini mungkin terjadi karena wanita lebih peduli dibandingkan pria terhadap akibat merokok pada dirinya (membahayakan kehamilan, kerusakan pada janin, dan risiko kanker serta penyakit jantung). Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa pria sulit atau tidak berhenti dan kebiasaan merokok? Hal ini terjadi karena sifat nikotin yang sangat adiktif. Di samping itu, lingkungan yang tidak mendukung untuk berhenti merokok lebih banyak terdapat pada pria dibanding wanita. Lingkungan yang tidak mendukung seseorang ingin berhenti merokok di antaranya pada saat main kartu /catur, sedang menunggu, stres, minum kopi, habis makan, dan jumpa teman lama yang perokok.

Sifat adiktif tembakau menyebabkan orang tergantung pada rokok dan jika dihentikan akan menimbulkan berbagai keluhan, seperti sulit mengkonsentrasikan pikiran dan kurang percaya din. Di samping itu, pria memiliki otoritas dalam menentukan pilihannya karena memiliki uang dan kesempatan untuk membeli rokok.

Pilihan Diserahkan kepada Konsumen
PP No. 19/2003 merupakan peraturan pemerintah pengganti PP No.81 /2000 tentang pengendalian tembakau. Peraturan pemerintah tersebut mencakup aspek yang berkaitan dengan ukuran dan jenis pesan peringatan kesehatan, pembatasan waktu bagi iklan rokok di media elektronik, pengujian kadar nikotin, dan tar. Perlu dicatat bahwa tidak ada pengaturan kadar maksimum nikotin dan tar dalam rokok pada PP 19/2003 ini. Dengan demikian, produsen bebas memproduksi rokok dengan kadar nikotin dan tar berapapun, asal kadar keduanya dicantumkan pada setiap bungkus rokok yang mereka produksi.

Tampaknya, jenis rokok mana yang akan diisap diserahkan pada konsumen.

Kalau dilihat dan segi perlindungan masyarakat terhadap biaya merokok, hal ini merupakan suatu kemunduran, karena seseorang yang sudah kecanduan cenderung menggunakan rokok dengan kadar nikotin yang lebih tinggi untuk memenuhi kepuasannya. Reaksi ini sangat membahayakan dan merugikan perokok itu sendiri. Tidak mungkin perokok yang sudah kecanduan akan memilih rokok dengan kadar nikotin rendah karena sifat adiksi dan nikotin yang cenderung meningkat untuk mencapai ambang kepuasan yang makin lama makin tinggi. Kalaupun yang digunakan rokok dengan rendah nikotin maka dia akan mengisap dalam jumlah batang yang lebih banyak.

Penutup

Salah satu alasan banyak orang sulit menerima bahaya penggunaan rokok terhadap kesehatan adalah tenggang waktu yang cukup lama (20-25 tahun) sejak mulai merokok sampai timbulnya kanker paru, gagal jantung, dan stroke. Disarankan agar pemerintah bersama masyarakat meningkatkan kegiatan untuk mengimbangi pengaruh kampanye perusahaan rokok, terutama yang ditujukan pada generasi muda sehingga pertambahan perokok pemula dapat ditekan. Di samping itu, penegakan hukum perlu dipertegas dengan merealisasikan sangsi kepada pelanggar peraturan tentang tembakau.

Medika Jurnal Kedokteran Indonesia No. 03 Tahun Ke XXXII, Maret 2006

Sumber: http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=957&tbl=artikel

Baik Tanpa Rokok


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok...
(Tuhan 9 Centi, Taufiq Ismail)

Sebatang rokok memuat empat ribu senyawa kimia. Salah satunya amonia, bahan pembersih lantai. Ironisnya, 62 juta jiwa atau 31,4 persen penduduk negeri ini memilih membasahi bibirnya dengan 'cairan kain pel' itu saban harinya, sebab mereka adalah perokok.

Indonesia adalah surga perokok terbesar kelima di dunia setelah Rusia. Seperlima pelajar SD, SMP, dan SMA di Jakarta dan Medan bahkan sudah getol mengisap sang 'paku maut' ini. Delapan dari sepuluh pelajar di Jakarta terpaksa menjadi perokok pasif di tempat-tempat umum. Begitu pula di Medan, dan kemungkinan kota-kota besar lainnya.

''Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok,'' begitu tulis Taufiq Ismail dalam sajak berjudul Tuhan 9 Centi. Taufiq, yang dokter hewan itu, tak keliru. Menurut dr Tjandra Yoga Aditama, spesialis paru-paru RS Persahabatan Jakarta, tanpa disadari, segudang zat kimia berbahaya dialirkan ke mulut, hidung, dan paru-paru ketika sebatang rokok diisap.

Sebut saja aseton (bahan pembuat cat), arsen (racun), butane (bahan bakar mobil), kadmium (aki mobil), karbonmonoksida (asap knalpot), DDT (insektisida), naftalen (kamper), DDT (insektisida), metanol (bensin roket), atau hidrogen sianida (gas beracun). Kandungan zat-zat maut ini lebih menggumpal pada asap rokok yang keluar dari pangkal rokok ( mainstream smoke) ketimbang dari ujung rokok (side stream smoke). Dari mana pun muasal asap, senyawa-senyawa ini tetap tak boleh tersentuh aliran darah. Tapi faktanya, 1,1 miliar manusia justru gemar merokok: 'menenggak' racun.

Tak heran, jumlah orang meninggal akibat sang lintingan tembakau ini segudang. Lima juta nyawa melayang setiap tahunnya terkait kebiasaan merokok. Dengan pola merokok seperti saat ini, kata dia, jumlahnya bakal menjadi 10 juta jiwa (dua kali lipat) pada 2020.
Pantas saja. Ada 25 macam penyakit yang mendekam di balik sebatang rokok, mulai dari jantung hingga kanker. Perokok berisiko tiga kali lipat terkena serangan jantung; sembilan kali lipat didera kanker tenggorokan; lima kali lipat diserang kanker mulut. Bayi dari ibu perokok terancam mengalami gangguan enzim pernapasan saat lahir. Masih banyak penyakit lainnya.

Singkat kata, rokok racun yang bebas diperjualbelikan itu adalah senjata pamungkas guna memangkas populasi umat manusia. ''Separuh dari perokok di dunia saat ini (650 juta orang) berpotensi meninggal akibat kebiasaannya itu,'' terang Yoga, Selasa (30/5), dalam diskusi di RS Persahabatan, menyambut Hari Tanpa Tembakau Dunia hari ini (31/5).

Sialnya, bukan perokok pun ketiban dampaknya. Sebanyak 20-30 persen penderita kanker paru di dunia adalah perokok pasif. Perokok aktif sendiri, menurut dr Cleimens Manyakori, direktur Pelayanan Medis dan Perawatan RS Persahabatan, tak mudah lepas dari kecanduan rokok.

Seperti narkoba, efek nikotin amat kuat pada sistem syaraf. Namun, terangnya, bukannya tak mungkin keluar dari jeratan sang 'paku maut'. Tak sedikit yang sukses. ''Apalagi kalau kita tahu dampak buruknya. Selain itu, kita juga harus tahu dampak baiknya,'' terang Cleimens.

Fakta Angka:

25
Jenis penyakit yang disebabkan asap rokok.
Perubahan Tubuh Setelah Berhenti Merokok

Dalam 20 menit:
Tekanan darah dan denyut nadi kembali ke normal.

Dalam 8 jam:
Kadar oksigen darah kembali normal.

Dalam 24 jam:
Karbonmonoksida dieliminasi dari tubuh. Paru mulai mengeluarkan mukus dan debris.

Dalam 48 jam:
Nikotin tak dapat lagi dideteksi dalam tubuh. Kemampuan mencium dan merasa jadi lebih baik.

Dalam 72 jam:
Bernapas mulai lebih lega sebab bronkus lebih elastis.

Dalam 2-12 minggu:
Sirkulasi di berbagai bagian tubuh membaik.

Dalam 3-9 bulan:
Gangguan pernapasan (batuk, sesak napas) mulai membaik. Fungsi paru meningkat 5-10 persen.

Dalam 5 tahun:
Risiko serangan jantung jadi separuh ketimbang yang terus merokok.

Dalam 10 tahun:
Risiko memperoleh kanker paru menjadi separuh. Risiko serangan jantung sama dengan yang tidak merokok sama sekali.

dr Tjandra Yoga Aditama

Sumber: http://cahaya.blogster.com/baik_tanpa_rokok.html
Langkah Berhenti Merokok

1
Tetapkan Harinya

Sebaiknya dilakukan serta-merta dengan menetapkan hari tertentu. Umpamanya: hari lahir, hari pernikahan, atau Hari Bebas Tembakau.

2 Berhenti merokok dengan kawan perokok


Berkumpul dengan kawan yang merokok, seterusnya sama-sama membuat perencanaan untuk berhenti merokok.

3 Uang dan bukan Abu Rokok


Setiap hari, kumpulkan berapa banyak uang yang selalu dihabiskan untuk rokok. Uang simpanan itu boleh disalurkan kepada perkara-perkara yang lebih bermanfaat.

4 Buang Semua Rokok


Sehari sebelum berhenti merokok, silahkan buang rokok, korek api, tempat abu rokok dan benda2 yang berkaitan dengannya.

5 Hanya Untuk Hari Ini


Ide untuk tidak merokok buat selamanya adalah sangat sulit. Hendaklah bertekad pada diri sendiri "Hanya untuk hari ini saya tidak akan merokok". Dengan itu melatih pemikiran Anda setiap hari.

6 Alihkan Pemikiran


Bila berhenti merokok, tangan mulut dan otak akan 'ketagihan', terutama sekali selepas makan dan semasa stres. Adalah penting kebiasaan merokok digantikan dengan aktivittas yang sehat seperti senam dan memakan makanan yang berkhasiat seperti buah-buahan segar bila rasa ketagihan merokok datang.

7 Bantuam Professional


Dapatkan bantuan professional seperti dokter yang akan memberi nasihat dan boleh mencadangkan Terapi Gantian Nikotin. Juga dapatkan bantuan keluarga dan kawan-kawan sebagai sokongan moral.

8 Terima Kasih Saya Tidak Merokok

Bila ditawari untuk merokok, katakan dengan pernuh semangat 'Terima Kasih Saya Tidak Merokok'.

9 Perhatikan Berat Badan


Kenaikan berat badan adalah lumrah selepas berhenti merokok, dengan ketiadaan nikotin yang fungsinya mengurangi nafsu makan. Oleh itu disarankan agar senam selama 30 menit setiap hari.

10 Bila Gagal




Bila tidak berhasil, jangan putus asa. Coba dan terus mencoba. Ingatlah setiap batang rokok, memudharatkan kesehatan kita.

Sumber: http://www.moh.gov.bn/merokok/berhenti.html
BISAKAH BERHENTI MEROKOK??????

Merokok sudah dianggap hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, dalam asap rokok terdapat 4.000 zat kimia yang berbahaya untuk kesehatan. Bisa enggak sih seseorang berhenti merokok?
Semua orang sudah tahu bahaya yang ditimbulkan akibat merokok. Tetapi, perilaku merokok tak pernah surut. Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari, seperti di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum, maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat dijumpai orang merokok. Bahkan, parahnya lagi nih, di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun, orang tetap tenang saja mengembuskan asap rokoknya dan sering kali orang-orang yang ada di sekelilingnya tidak peduli.

Kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan! Dalam asap rokok terdapat 4.000 zat kimia berbahaya, dua di antaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik. Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker.

Asap yang keluar dari pembakaran mengandung gas-gas beracun, seperti karbon monoksida dan larutan kimia lainnya. Karbon monoksida akan menurunkan kemampuan tubuh dalam membawa oksigen yang dapat menimbulkan risiko penyakit jantung.

Tembakau berisi zat nikotin yang sangat adiktif (membuat orang ketagihan). Nikotin akan mempercepat detak jantung dan meningkatkan tekanan darah. Namun, yang lebih membahayakan adalah tar>f 9001<>

Untuk memberikan selera yang diharapkan perokok, pabrik selalu menambahkan zat tambahan agar rasa dari rokok itu bisa memenuhi keinginan konsumen. Zat-zat tambahan inilah yang dapat meningkatkan kinerja dari nikotin.

Hal itulah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok karena ketergantungan pada nikotin. Efek dari rokok atau tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku, dan fungsi psikomotor. Jika dibandingkan dengan zat-zat adiktif lainnya, rokok sangatlah rendah pengaruhnya. Makanya, ketergantungan pada rokok tidak begitu dianggap gawat.

Faktor pengaruh

Mengapa seseorang yang masih berusia muda (remaja) sudah mulai merokok? Ada beberapa faktor yang memengaruhi, yakni:

1. Pengaruh orangtua.

Salah satu temuan tentang teman-teman kita yang sudah menjadi perokok, mereka berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia. Orangtuanya tidak begitu memerhatikan dan sering memberikan hukuman fisik yang keras. Yang paling kuat pengaruhnya adalah, bila orangtua sendiri perokok berat, anak-anaknya mungkin sekali untuk mencontohnya.

2. Pengaruh teman.

Berbagai fakta mengungkapkan, makin banyak teman-teman kita yang sudah pada merokok, makin besar kemungkinan kita jadi perokok juga.

3. Faktor kepribadian.

Anak muda zaman sekarang umumnya mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun, satu sifat kepribadian yang bersifat hanya mencoba-coba pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) seperti ini justru mengarahkan kepada hal-hal yang negatif.

4. Pengaruh iklan.

Melihat iklan di media cetak dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau >f 9002f 9001<, sering kali membuat seseorang terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.

Gimana caranya berhenti?

Memang sulit sih untuk menghilangkan kebiasaan merokok. Tahap pertama yang mungkin bisa dilakukan ya dari motivasi. Dengan menumbuhkan motivasi dalam diri kita untuk berhenti atau tidak mencoba untuk merokok akan membuat kita mampu tidak terpengaruh godaan merokok yang datang dari teman, media massa, atau kebiasaan keluarga/orangtua.

Di dalam website tentang kesehatan remaja, >uon 1under<>f 9001<, ada >f 9002f 9001<>

Harus ada kemauan!

Pilih satu hari untuk mulai berhenti merokok. Dan, pilih lagi keesokan harinya, dan berikutnya….

Sadarlah bahwa nanti kita akan merasa marah, terganggu, dan pengin sekali merokok. Itulah efek nikotin, kita bakal merasa ketagihan. Dia akan gangguin kita terus seperti anak kecil. Cuekin saja! Seperti anak kecil, kalau dicuekin, ia bakal pergi dengan sendirinya.

Pikirkan waktu kita biasanya merokok, saat pesta, sebelum tidur, kumpul sama teman. Cari gimana caranya kita bisa melewati keadaan tersebut tanpa rokok. Mungkin dengan mengunyah chewing gum, main play station, atau yang lainnya yang bisa membuat tangan atau mulut kita sibuk. Cari teman yang juga pengin berhenti merokok.

Hindari teman-teman yang selalu mendorong kita untuk merokok. Jangan takut tubuh bakal gemuk. Kalau jadi gemuk, bisa kita kecilkan lagi setelah kita bebas dari rokok.

Berbanggalah bahwa kita tidak merokok.

Kalo gagal? Jangan khawatir! Coba renungkan kenapa kita gagal. Pikirkan bagaimana kita bisa menang lain waktu. Dan, coba lagi! Ingat, kemenangan jauh lebih prestise buat kita.

ANANG SARI ATMANTA Relawan Pusat Studi Seksualitas PKBI DIY


Sumber: http://www.kompas.com/wanita/news/0509/16/102933.htm

Tuesday, July 11, 2006

7 Cara Menyegarkan Otak


Otak adalah piranti paling vital dalam tubuh. Cacat sedikit saja,
atau 'tak bugar' bisa jadi pasokan ingatan akan terhambat, stroke,
atau bahkan meninggal. Otak memang sangat kuat, tapi juga rentan.
Oleh karena itu, perlu kiat cermat untuk terus membugarkannya.

Caranya :
Pertama, jaga makanan atau diet. Makanan yang asal-asalan bisa
membuat tubuh rusak. Hindari kegemukan karena bisa menyebabkan
munculnya penyakit seperti diabetes, jantung, hipertensi dan lainnya.

Kedua, hindari minum alkohol dan mengonsumsi narkoba karena bisa
meracuni bisa otak.

Ketiga, waspadalah bila memasak menggunakan panci, ketel, atau
pembungkus alumunium foil karena alumunium yang berlebih dalam darah
bisa menurunkan daya ingat. Selain alumunium, zat besi dan silikon
juga bisa meracuni otak.

Keempat, berolahragalah secara teratur. Kalau tidak memungkinkan,
minimal lakukan jalan kaki setiap hari selama 30 menit. Usahakan
untuk latihan pernapasan dan melakukan senam otak.

Kelima, jauhi tempat-tempat yang berpolutan tinggi karena CO
(karbonmonoksida) yang terkandung dalam asap mobil bisa meracuni
otak.

Keenam, asah otak, misalnya dengan main catur, kartu, mengisi teka-
teki silang, mempelajari sesuatu dan mempraktekkannya.

Ketujuh, tanggulangi stres dengan baik. Bisa dengan rileksasi,
meditasi atau menggeluti hobi.

http://www.ayahbunda-online.com